Showing posts with label Lelembut. Show all posts
Showing posts with label Lelembut. Show all posts

Mitos Atau Nyata Mengenai Makhluk Misterius Asal Minangkabau?

Mitos Atau Nyata Mengenai Makhluk Misterius Asal Minangkabau

MyMisteri Leony Li - Sebagian orang Minangkabau sangat meyakini adanya Dewa atau istilah makhluk halus yang tinggal di wilayah hutan atau di pinggir bukit, bahkan di dekat pekuburan. Mungkin Sahabat mengenalnya dengan sebutan orang bunian.

Konon, menjelang matahari terbenam, di pinggiran bukit akan tercium sebuah wewangian yang dikenal dengan istilah Masakan Dewa atau Samba Dewa. Wewangian tersebut mirip bau kentang goreng. Biasanya dewa dalam kepercayaan Minangkabau banyak dianggap berjenis kelamin perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di kepercayaan lain.

Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang atau disembunyikan oleh orang Bunian. Ada juga istilah orang dipelihara dewa, yang saat bayi telah dilarikan oleh Dewa. Mitos tersebut masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau hingga kini.

Ada sejumlah pendapat dan pandangan sebagian masyarakat tentang orang bunian. Meskipun sebagian masyarakat menganggap bahwa makhluk bunian itu adalah orang pedalaman kampung dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya.

Setiap daerah memiliki kepercayaan tentang makhluk bunian, seperti di daerah bengkulu, orang Bunian disebut juga sebabah yang merupakan kemiripan dengan manusia hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik. Lebih kedaerah pedalamannya lagi ada juga kisah tentang makhluk Gugua, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia.

Konon, pada zaman dahulu makhluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap makhluk ini dengan menggunakan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan makhluk ini dengan penduduk lokal dan mempunyai keturunan.

Di gunung Sebelat (Taman Nasional Kerinci) Orang bunian dipercaya merupakan komunitas manusia hutan. Masyarakat setempat menyebutnya Uhang Pandak. Salah satu peneliti asing yang bernama Deborah Martyr begitu tertarik dengan legenda ini dan melakukan penelitian, namun hingga saat ini penelitian tersebut belum menunjukkan hasil. Istilah Uhang pandak adalah pengertian dari orang yang bertubuh pendek.

Mereka merupakan makhluk yang keberadaannya telah diketahui sejak ratusan tahun silam, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan makhluk ini.

Keberadaan mereka sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mereka, banyak dari wisatawan dan peneliti mancanegara yang melakukan riset tentang alam Gunung Sebelat secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan makhluk ini.

Informasi yang berhasil dikumpulkan mampu memberikan gambaran tentang Uhang Pandak ini. Mereka adalah makhluk hidup di atas tanah, berjalan dengan kedua kakinya dengan tubuh yang diselimuti oleh bulu pendek (abu-abu hingga coklat) dan tinggi tubuh sekitar 80 cm hingga 150 cm.

Beberapa ahli bahkan mengklasifikasikan Uhang Pandak sebagai bagian dari rantai evolusi yang mereka sebut monyet misterius. Selama tiga tahun terakhir, para peneliti lokal dan mancanegara telah menjelajah hutan dengan harapan dapat menemukan bukti keberadaan masyarakat Uhang Pandak.

Mereka telah melakukan banyak cara dengan memasang kamera trapping di wilayah hutan terutama di daerah dimana sering terjadi laporan penampakan para makhluk tersebut sampai dengan pembuatan perangkap untuk menangkap salah satu dari makhluk itu.

Para ahli merasa khawatir jika memang eksistensi keberadaan Uhang Pandak ini ada, bukan tidak mungkin mereka sedang terancam kepunahan sebagai akibat dari aktivitas penebangan dan penghancuran lingkungan mereka.

Ada juga yang mengatakan bahwa komunitas masyarakat orang bunian itu bukanlah komunitas makhluk halus, namun suatu makhluk yang mirip manusia yang memiliki sedikit perbedaan dengan manusia, ada yang beranggapan mereka adalah ras manusia tersendiri dan merupakan bagian dari ras manusia kuno.

Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari makhluk halus ataupun ras manusia yang berbeda. Dunia masih menyimpan misteri tentang mereka yang harus terus dilakukan penelitian tentang keberadaan mereka.

Bukankah berbagai peninggalan dan kerangka makhluk setengah kera atau yang baru-baru saja dtemukan mengenai manusia pendek dari Flores membuktikan ada suatu komunitas diluar manusia modern yang pernah ada dan bisa jadi mereka tersembunyi untuk suatu hari bisa ditemukan.

Sumber: Wikipedia

Diganggu Oleh Dedemit Gunung Salak

Diganggu Oleh Dedemit Gunung Salak

MyMisteri Leony Li
- Sebagai seorang pendaki, banyak kejadian mistik yang kualami ketika aku mendaki gunung. Tapi, kisah yang kutulis ini adalah yang paling menyeramkan dalam riwayat pendakianku ke sejumlah gunung. Peristiwa ini menyebabkan trauma selama satu tahun lebih. Berikut kisahnya.

Seperti biasa, setiap tahun organisasi kami, Mahasiswa Pecinta Alam, pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, selalu mengadakan diklat atau pelatihan untuk calon anggota baru. Kali ini, kegiatan tersebut diadakan di gunung Salak, Sukabumi. Dari awal pemberangkatan menuju lokasi pertama, keadaan baik-baik saja.

Semua berjalan sesuai schedule yang telah ditetapkan panitia. Kebetulan, aku menjadi mentor pembimbing untuk satu grup, yang terdiri dari Keni, Irfan dan Agung. Tugasku adalah mengawasi dan membimbing mereka selama dalam pendakian. Sedangkan dua grup lagi, dipimpin oleh Bayu dan Hendi. Jumlah peserta termasuk senior dan panitia tak kurang dari 20 orang.

Perjalanan menuju lokasi pendakian pertama ditempuh sekitar dua Km. Itupun baru tahap pemanasan. Para catas (istilah untuk calon anggota) harus berjalan sejauh dua Km. dengan membawa beban carrier rata-rata 9 - 12 Kg per orang. Selama dalam perjalanan, tampak sekali aku lihat para catas ini sangat kelelahan. Apalagi Keni yang kebetulan catas wanita satu-satunya.

Ketika perjalanan mulai memasuki perhutanan, terjadi sedikit kekacauan pada Keni. Tiba-tiba dia ketakutan sambil memegang tangan rekan sesama catas. "Ada apa Ken" tanyaku, agak jengkel juga. "Lihat, Kak Ida! Disana ada orang tinggi besar menghadang jalan kita," jawab Keni. Tangannya gemetar menunjuk ke depan.

Tapi aku dan yang lainnya tidak melihat orang yang dimaksudnya. "Mana Ken, kamu jangan bercanda ya. Ayo, kita jalan lagi!" perintahku. "Tidak..tidak!! Aku takut, Kak!" bantah Keni, setengah merengek. "Kalau kamu tidak melanjutkan pendidikan ini, kamu batal jadi catas. Lagian kamu jangan nyusahin gitu, dong!" kataku mengingatkan.

Keni hampir menangis. Untunglah, karena bujukan dari beberapa teman catas dan semangat dari para senior, akhirnya dia mau melanjutkan perjalanan. Untuk menuju titik pendakian pertama, jalan yang kami lalui sudah sedikit sulit, apalagi para senior cowok harus membuka jalur terlebih dahulu. Ditambah lagi rute yang becak dan licin karena seringnya turun hujan.

Ketika hari menjelang sore, kami harus mencari lokasi peristirahatan. Setelah mendapat lokasi yang cukup baik, kami mulai memasang tenda. Ada sebagian yang membuat makan malam, dan tak lupa membuat perapian untuk penerangan dan menghangatkan badan. Setelah rapi semuanya, para senior mengumpulkan catas untuk evaluasi dan pelaksanaan jadwal besok hari.

Waktu itu, jelas sekali kulihat wajah Keni yang pucat dengan pandangan kosong. "Kamu kenapa, Ken?" tanyaku, tapi Keni diam saja. Untuk kedua kalinya aku bertanya, "He, ngapain kami bengong saja. Masuk nggak tuh pelajaran?" bentak Jawir sebagai panitia pelaksana lapangan. Keni tersentak kaget. "I…iya, Kak!" geragapnya.

Setelah evaluasi selesai, para catas dipersilahkan kembali ke tendanya masing-masing. Begitu juga dengan para senior. Namun, belum sampai setengah jam kami beristirahat, tiba-tiba terdengar suara Keni berteriak keras. "Tolooong…!!" Sontak kami berhamburan keluar menghampiri tendanya. Apa yang terjadi? Kami melihat wajah Keni berubah menyeramkan.

Matanya melotot ke atas. Ketika salah seorang dari kami menanyakan keadaannya, tiba-tiba Keni malah tertawa keras. Namun, itu bukan suara tawanya yang asli. Tawa itu seperti suara seorang lelaki. Lebih aneh lagi, Keni juga bisa tertawa dengan suara wanita cekikikkan mirip Mak Lampir dalam sintron. Akhirnya, kami sadar kalau Keni kerasukan.

"Siapa kamu ini sebenarnya?" tanya Jawir yang memang paling senior dari kami. Keni tertawa dan menyeringai. "Aing nu boga tempat ieu (aku yang punya tempat ini)," jawabnya dengan suara bariton yang berat milik laki-laki. "Kami mohon maaf apabila berbuat kesalahan. Tapi tolong bebaskan teman kami ini. Dia tidak tahu apa-apa," bujuk Jawir.

Keni hanya diam. Anehnya, beberapa saat kemudian Keni berubah tenang. Namun, ketika aku memintanya itirahat di dalam tenda, tiba-tiba Keni kembali lagi berteriak dan meronta-ronta. Sontak Jawir mendekap tubuh Keni. Bahkan karena takut terjadi sesuatu, kami bersepakat mengikat kaki dan tangan Keni. Ya, kami takut Keni akan lari dan masuk jurang.

Sampai pagi harinya, kami tidak tidur hanya menunggui Keni yang sebentar-bentar kerasukan dan mengamuk. Namun, karena schedule harus dilaksanakan, maka kami harus berkemas untuk menuju lokasi berikutnya. Kali ini, rute yang kami tempuh sangat sulit. Hujan yang turun mengakibatkan jalan setapak becek dan licin, sehingga kami harus ekstra hati-hati.

Karena sulitnya medan, perjalanan kami jadi sangat lambat dan melelahkan. Akhirnya kami memilih berhenti ketika melihat Keni tiba-tiba terjatuh. Beberapa peserta lelaki membopong tubuh Keni yang terjatuh. Anehnya, Keni meronta-ronta sambil mendengus seperti seekor harimau. "Aku suka dengan anak ini!" kata makhluk itu dengan suara sangat menakutkan.

Kami kembali sibuk mengurusi Keni. Rupanya demit ini menyukai Keni dan selalu mengikutinya. Dengan sisa-sisa keberanian para senior bergantian mengintrogasi si demit yang tentu saja dengan bahasa Sunda. Akhirnya, diketahui mengapa demit itu selalu mengikuti Keni. Rupanya, Keni telah membuang bekas pembalut sembarangan.

Demit tersebut sangat bandel, tidak bisa disuruh keluar. Hal ini memaksa Sapri, senior yang mengerti spiritual mengusir dengan doa-doa. Tetapi tetap saja demit itu bersamayam di tubuh Keni. Aku yang tak tega melihat Keni, langsung membacakan doa-doa ditelinganya. Ketika baru selesai, tiba-tiba mata Keni melotot ke arahku sambil tertawa dengan suara lelaki yang mengeramkan.

"Kamu gadis cantik sekali..!" kata demit yang bersemayam dalam tubuh Keni. Sontak aku menjauhi Keni, karena dia sepertinya ingin menyentuhku. Dengan sigap pula Ema, teman seniorku, langsung menutup mata Keni karena pandangannya tak lepas dariku. Karena keadaan Keni yang tambah buruk, pendakian akhirnya kamu tunda. Kami pun kembali membuka tenda. Jadwal yang telah disusun tidak terlaksana dengan baik.

Pagi harinya, tepatnya hari ketiga, kami kembali lagi berkemas untuk menuju lokasi berikutnya. Sebelum berangkat Hendi, teman kami, melihat ada seekor anjing berbulu putih di balik semak-semak. "Aneh, kok ada anjing hutan menghampiri tenda kita?" tanya Hendi. "Mungkin saja dia mencium makanan yang kita bawa," jawab Sapri.

Tanpa menaruh curiga, kami pun segera melanjutkan pendakian. Kali ini pendakian benar-benar sulit. Selain cuaca yang tidak mendukung karena hujan turun dengan lebatnya, juga kondisi peserta yang mulai kurang vit. Hal yang tidak masuk akal, di tengah perjalan dan derasnya hujan yang memaksa kami harus ekstra hati-hati itu, aku dikagetkan dengan kemunculan Keni yang tiba-tiba berjalan dengan cepat dan sudah berada di depanku.

"Yang lainya mana, Ken?" tanyaku, tanpa menaruh curiga. "Mereka masih jauh, Kak. Ayo, kita jalan duluan dan tetap semangat, Kak" Kata-kata Keni ini membuatku heran dan penasaran. Namun, aku hanya terdiam sambil terus berdoa memohon perlindungan Yang Maha Kuasa. Akhirnya, aku dan Keni menyusul rombongan terdepan. Tapi aku heran karena semak yang kami pangkas untuk dilewati, bisa tertutup kembali dengan sendirinya.

"Kita tunggu yang lainnya," kata Jawir yang sudah berhasil aku susul bersama Keni. Tak berapa lama, rombongan paling belakang telah sampai. "Bagaimana ini, jalur yang sudah dipangkas, kok bisa tertutup kembali?" tanya Jawir ke Eko sebagai ketua rombongan. "Sudahlah, kita pangkas lagi ditempat yang tadi juga!" ujar Eko yang mencoba tetap tenang.

Seringnya terjadi keanehan, membuat kami harus berjalan beriringan jangan sampai terpisah jauh. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, sambil terus berdoa, tak sedetikpun pengawasanku lepas dari Keni yang kulihat ada kejanggalan pada dirinya. Karena kondisi yang tak memungkinkan dan haripun menjelang sore, kembali kami membuka tenda di lokasi yang tidak sesuai rencana kami sebelumnya.

Hari keempat ini kami mengalami pendakian yang letihnya tiada tara. Ketika hari menjelang Maghrib, tiba-tiba kembali tubuh Keni dirasuki demit yang selalu mengikutinya. Keni meronta-ronta dan menendangi siapa saja yang dekat dengannya. Untunglah, Jawir dan Sapri dengan sigap menelikung tubuh Keni yang kecil itu. Karena tenaga Keni berubah sangat kuat, maka para senior dan para catas pun ikut memeganginya.

Mereka membopong Keni ke tenda panitia yang lebi besar. Apa yang terjadi selanjutnya? Sangat sulit dibayangkan. Tubuh Keni terus meronta dan menendangi sambil terus mengoceh dalam bahasa Sunda. Tujuh tenaga lelaki tak sanggup menahannya. Setelah tak ada yang sanggup memegangginya, sebentar-bentar tubuh Keni terangkat ke atas dan melayang-layang, seperti tertarik oleh kekuatan tak kasat mata.

Beberapa teman senior berusaha menahannya. Keni berteriak keras dan tentu saja membuat kami yang wanita menangis histeris. "Tolong.. jangan bawa aku!" teriak Keni. Kenyataan yang tak masuk akal terus saja terjadi. Keni seperti mengalami penyiksaan. Sebentar tubuhnya melayang, namun sebentar kemudian jatuh terempas ke tanah. Melihat kejadian ini, tak henti-hentinya kami mengumandangkan takbir.

Sedang aku sendiri tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Sampai lewat tengah malam, demit itu seolah terus menyiksanya, bahkan lebih sadis lagi. Kali ini, kemarahan sang iblis tak terbendung lagi. Wanita mana saja lengah, pasti akan diserang. Aneh sekali! Walaupun dalam penyiksaan yang tiada tara, tapi terkadang Keni tersadar bila demit itu keluar dari tubuhnya.

"Ema..awas dia mau masuk ke tubuh kamu!" teriak Keni memperingatkan Ema. Kesal dengan peringatan itu, membuat demit itu marah luar biasa. Kembali dia menyiksa Keni dengan ulahnya yang semakin menjadi-jadi. Mony yang sedari tadi sibuk dengan komat-kamitnya dengan spontan langsung mengumandangkan adzan pada jam setengah tiga pagi. Tiba-tiba keadaan menjadi hening, karena suara adzan.

Kami yakin demit itu takut dengan adzan. Dia mungkin telah pergi meninggalkan tubuh Keni. Alhamdulillah, kami bersyukur karena Allah masih melindungi kami. Tapi, dugaan kami salah. Sepertinya demit itu sadar, kalau dia hanya dikerjai oleh adzan Mony. Dia kembali dengan ganas dan menyiksa Keni, bahkan kali ini tak luput Mony kena sedikit bogemnya. "He, kamu tidak takut dengan Allah?" bentak Jawir.

"Tidak!" jawab demit itu meminjam mulut Keni. "Masuk neraka kamu! Kafir kamu!" susul Sapri. Iblis malah tertawa dengan sangat menyeramkan. Pagi harinya, kami selaku panitia memutuskan untuk kembali turun mencari perumahan penduduk, dengan maksud untuk menyelamatkan Keni, karena walaupun hari telah pagi, demit itu tetap mengikuti dan menyiksa Keni.

Perjalanan turun diwarnai dengan pertarungan yang hebat, bahkan aku yang berlari paling belakang sempat carrier ditarik demit sialan itu, hampir-hampir aku terjerembat jatuh. Bahkan, lewat mulut Keni demit itu mengancam bila telah lewat siang hari dia akan mengundang teman-temannya yang lebih banyak lagi. Ketika kami hampir sampai di pemukiman penduduk, tiba-tiba demit sial berpindah merasuki tubuh Rani.

"Jangan..!" teriak Rani sambil menangis histeris. Rupanya, dengan jelas Rani melihat makhluk tinggi besar hitam dan berambut panjang itu. Karena tersadar, demit itu tidak berhasil merasuki tubuh Rani. Singkat cerita, akhirnya Keni ditangani salah seorang supranturalis di kaki gunung Salak. Setelah ditangani, keadaan Keni mulai tenang dan tidak kacau lagi.

Setelah itu kami memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Syukur Alhamdulillah, demit itu sudah tidak mengganggu lagi. Dalam perjalanan pulang, aku yang tertidur di bus bermimpi Keni diikuti demit itu sambil menyeringai ke arahku. Sontak aku terbangun. Rupanya, Keni kembali mengamuk di bus. Sampai di kampus, Keni langsung dibawa ke orang pintar.

Orang pintar tersebut mengatakan, bahwa makhluk itu dulunya seorang jawara sakti dan melarikan diri ke gunung Salak sebagai tempatnya yang baru. Keni disukai makhluk jahanam ini, karena akan dijadikan pendamping di alam kegelapan. Karena itulah, ke mana pun dia pergi, makhluk itu akan mengikutinya. Saat berusaha mengobati Keni, orang pintar tersebut menyuruh makhluk itu untuk kembali ke asalnya, tapi dia tidak mau kalau tidak di antar.

Sudah barang tentu, tak satupun teman-teman yang mau mengantar, karena kami takut itu hanya jebakan saja. Dengan kejadian tersebut, salama satu tahun lebih, aku merasa diikuti oleh makhluk itu. Sampai-sampai ke kamar mandi pun harus ditemani oleh kakak atau ibuku.

Sampai kini aku tidak tahu bagaimana nasib Keni selanjutnya. Namun, sempat kudengar kabar bahwa dia menjadi seorang muslimah yang taat. Mungkin, hanya dengan pilihan ini dia bisa melakukan penyembuhan untuk dirinya.

Sekutu Dengan Raja Demit

Sekutu Dengan Raja Demit

MyMisteri Leony Li
- Pertengahan tahun 2000 itu aku (Penulis) bergabung dengan salah satu perguruan ilmu gaib yang ada di Solo. Pada waktu itu, ilmu gaib memang sedang ramai diperbincangkan orang, sehingga banyak sekali bermunculan perguruan-perguruan ilmu gaib. Aku memilih perguruan di Solo itu, karena waktu itu aku sendiri membacanya di salah satu majalah.

Mereka, maksudnya anggota perguruan ini, menginap di padepokan sampai berminggu-minggu lamanya untuk mengikuti pelatihan fisik berupa olah kanuragan maupun mental.

Salah satu bentuk latihan tersebut adalah pada malam hari mereka pergi ke kuburan atau tempat-tempat angker untuk latihan terawangan. Penasaran dengan cerita di majalah, aku pun menyambangi pedepokan perguruan ilmu gaib tersebut.

Ternyata benar, apa yang telah diceritakan dalam majalah yang sempat kubaca. Di perguruan ini, aku memang bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.

Ada yang baru datang, ada yang sudah beberapa hari, beberapa minggu bahkan ada yang sudah sebulan, namun mereka mengaku masih kerasan tinggal di padepokan yang terletak di luar kota Solo itu.

Salah seorang murid lama di perguruan tersebut adalah Farullah. Dia mengaku berasal dari Sepanjang, Sidoarjo. Fahrullah adalah sosok lelaki muda, berusia sekitar 30 tahun, bertubuh gemuk pendek, kepala sedikit botak.

Namun yang paling menarik, lelaki ini sosok yang sangat pemberani, sekaligus pula ambisius. Mungkin karena sifatnya yang ambisius itu, maka Fahrullah termasuk pula sebagai seorang yang sangat rajin wirid.

Wirid utamanya adalah surat Al-Fatihah. Menurut pengakuannya, dia sudah mewiridkan surah Al-Fatihah sebanyak 100.000 kali. Prestasi yang menurutku sangat luar biasa. Hal ini bisa dimaklumi karena memang kalau dia wirid, maka bisa sampai lima atau enam jam. Untuk urusan terawangan, Farullah termasuk jempolan.

Hingga pada suatu malam, sewaktu terawangan di Taman Pramuka Solo, Fahrullah bertemu dengan sosok bangsa halus yang mengaku bernama Siti. Dia adalah penghuni alam gaib Taman Pramuka yang wajahnya cantik jelita. Melihat kecantikan Siti, sang penunggu alam gaib Taman Pramuka tersebut, Fahrullah tergoda imannya.

Hingga tanpa sadar, dia melakukan hubungan biologis dengan makhluk halus tersebut. Anehnya, setelah hubungan perzinahan itu, Fahrullah di datangi orang tua Siti, yang bermaksud meminta pertanggung jawaban darinya. Fahrullah mau bertanggung jawab, tapi harus di depan gurunya. "Siapa gurumu itu?" Tanya orang tua Siti.

Fahrullah menyebutkan nama gurunya. Setelah mendengar nama guru Farullah, orang tua Siti yang sudah tentu juga makhluk halus itu akhirnya bingung. Sepertinya dia tidak berani meneruskan perkaranya lagi.

Pada malam berikutnya, ditemani Penulis dan di tempat yang sama, Fahrullah kembali melakukan terawangan. Waktu itu, Fahrullah bertemu dengan apa yang disebutnya sebagai Raja Demit. Dia sangat ketakutan dan berniat mau lari, tetapi dicegah oleh si Raja Demit.

"Jangan takut. Saya akan membantu kesulitanmu," kata Raja Demit. Mendengar perkataan makhluk gaib tersebut mau membantu kesulitannya, Fahrullah tidak jadi lari. Bahkan, mereka kemudian berdialog. Setelah dialog dengan makhluk itu, akhirnya Fahrullah bersedia bersekutu dengannya dengan syarat, apabila Fahrullah minta sesuatu ada syaratnya dan syarat itu harus dipenuhi.

Menurut cerita Fahrullah, pernah pada suatu malam, dia pulang ke Sidoarjo menumpang bus, tetapi tidak mempunyai uang. Di tengah perjalanan, dia diturunkan oleh kondektur karena tidak punya tiket dan tidak punya uang buat bayar ongkos. Setelah itu, dia minta bantuan Raja Demit agar bisa mengantarnya pulang.

Apa yang terjadi? Oleh Raja Demit, Fahrullah diminta mencari tempat yang gelap dan tidak ada orang. Perintah tersebut diikuti oleh Fahrullah. Di tempat yang gelap dan sepi tersebut, Fahrullah disuruh memejamkan mata dan jangan sesekali membukanya, kecuali diperintahkan buka oleh si Raja Demit. Suatu keajaiban memang terjadi.

Setelah diperintah membuka mata, dan Fahrullah pun membuka matanya, maka dia sudah ada di belakang rumahnya di Sidoarjo. Kejadian yang Penulis dan teman-teman lainnya sering saksikan adalah, ketika Fahrullah membutuhkan uang.

Setelah dia berkomunikasi dengan Raja Demit dan menyanggupi syarat yang diajukan oleh si Raja Demit, maka dalam waktu kurang dari lima menit, uang lima puluh ribu atau seratus ribu sudah ada di tangan Fahrullah.

Pada mulanya, syarat yang diminta oleh Raja Demit itu hanya hal-hal biasa saja, seperti harus mandi di WC, tidak boleh mandi di kamar mandi. Namun, lama-kelamaan syarat yang diajukan oleh si Raja Demit mulai menyalahi aturan-aturan agama.

Misalkan saja, Fahrullah harus kencing di depan teman-teman yang sedang santai di lapangan olah raga, atau tindakan lain yang cenderung melanggar adapt dan etika kesopanan.

Menurut pengamatan Penulis, uang yang dibuat oleh Fahrullah lewat bantuan Raja Demit adalah sihir makhluk gaib. Karena uang tersebut tidak bisa bertahan lama. Setelah Fahrullah membelanjakannya, tidak berapa lama kemudian, uang tersebut kembali ke ujud semula.

Ya, kalau semula Fahrullah memegang kertas atau daun, kemudian berubah menjadi uang, maka setelah uang tersebut dibelanjakan maka beberapa menit kemudian, uang tersebut berubah lagi menjadi kertas atau daun.

Salah seorang teman Penulis dari Lampung, pernah diajak oleh Fahrullah nonton bioskop dengan memakai uang yang disulap dari bungkus permen. Seusai pertunjukan, Fahrullah beli satu bungkus rokok dengan menggunakan sobekan karcis bioskop. Terus langsung naik taxi dengan uang yang juga hasil sihir si Raja Demit.

Ketika di tengah perjalanan, ada warung sate kambing, tiba-tiba Fahrullah minta berhenti. Mereka masuk warung itu, namun anehnya, Fahrullah memesan buat dia sate kambing mentah.

Sedangkan untuk teman penulis sate kambing bakar. Pada mulanya tukang sate menganggap pesanan Fahrullah hanya bercanda, namun Fahrullah meyakinkan bahwa memang dia memesan sate kambing mentah.

Tentu saja tukang sate kambing menjadi terheran-heran setelah sate kambing mentah disediakan Fahrullah dengan lahap menyantapnya. Anehnya lagi, setelah sampai di Padepokan, Fahrullah langsung menuju dapur kemudian makan nasi sama lauk pauk seadanya.

Teman penulis dari Lampung ini karuan heran melihat Fahrullah makan lagi. Namun Fahrullah bilang, yang makan sate kambing mentah tadi bukan dia, tapi si Raja Demit sahabatnya, sedangkan yang sekarang makan nasi dan sayur, adalah Fahrullah sendiri.

Kisah unik lainnya seperti ini

Kalau biasanya uang bikinan Fahrullah hanya bertahan beberapa menit setelah dibelanjakan, maka lain lagi halnya jika Fahrullah butuh uang banyak dan agar tahan lama. Caranya yaitu dengan memakai satu uang asli ditambah beberapa lembar kertas atau daun sesuai kebutuhannya.

Waktu itu, Fahrullah tertarik dengan iklan di salah satu koran yang menyatakan bahwa ada satu cara agar uang di ATM bertambah dengan sendirinya. Kemudian Fahrullah meminjam uang lima puluh ribu pada salah seorang teman Penulis.

Setelah itu, uang tersebut digabung dengan sobekan-sobekan koran. Aneh, tidak lama kemudian di tangannya sudah tergenggam sejumlah uang lima puluh ribuan, sama persis dengan uang lima puluh ribuan yang asli. Uang yang asli dikembalikan sedangkan uang sihir Raja Demit dibawa ke bank untuk ditansfer ke rekening orang yang pasang iklan.

Menurut Fahrullah, uang tersebut bisa bertahan sampai tiga hari, setelah itu baru berubah seperti semula. Kisah lain yang aneh bin ajaib seperti ini.. Fahrullah bukan hanya bisa bikin uang dari kertas atau daun untuk dirinya saja, tetapi dia juga bisa menurunkan ilmunya pada orang lain.

Hal ini pernah dia lakukan pada teman-teman Penulis. Sebut saja seperti kepada Fahri dari Sintang dan Fahran dari Pontianak, Kalimantan Barat, Ferdi dari Bandung, Jawa Barat, dan Gunawan dari Negara Ratu, Lampung.

Caranya, tiap orang teman Penulis itu diberi 7 biji gotri kecil yang sudah dimanterai oleh si Fahrullah. Gotri tersebut harus ditelan dengan air putih yang sudah dicampuri dengan setetes darah Fahrullah.

Hanya Fery yang bersedia meminum air bercampur setetes darah Fahrullah itu, sedangkan Fahran, Ferdi dan Gunawan tidak mau meminum air yang bercampur darah, mereka hanya minta minum dengan air biasa.

Akhirnya, hanya Fery yang berhasil. Katanya, yang ikut Fahry bukan Raja Demit, tetapi anak bajang, yang permintaannya juga tidak aneh-aneh seperti permintaan Raja Demit jiak dia memberikan sesuatu sebagai imbalan.

Memang, persekutuan antara Fahrullah dengan Raja Demit berlangsung cukup lama dan tidak terkontrol oleh guru Penulis, yang waktu itu memang sedang tidak ada di Solo.

Karena beliau sedang menunaikan ibadah haji. Sepulang beliau dari ibadah haji, maka Fahrullah dipanggil olehnya agar jangan lagi melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dengan cara membuat uang sihir atas bantuan Raja Demit.

Di depan guru kami, Fahrullah berjanji untuk tidak berbuat seperti itu lagi. Namun, setelah dia pulang ke Sidoarjo, perbuatan tersebut diulangi lagi. Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali.

Setelah peringatan ketiga tidak diindahkan, maka guru kami akhirnya bertindak tegas. Dengan paksa, Raja Demit teman Fahrullah dipasung kemudian ditanam di gunung Galunggung. Setelah Raja Demit tidak mendampingi Fahrullah, maka hilanglah kesaktiannya. Dia tidak bisa lagi membikin uang dari kertas atau daun.

Demikianlah salah satu contoh orang yang belajar ilmu gaib tetapi tidak mempunyai iman yang kuat. Oleh sebab itu, pesan kami kepada semua Pembaca, kalau ingin belajar ilmu gaib terlebih dahulu harus belajar ilmu-ilmu Fiqh, Tauhid, Akhlaq dan lain-lainnya agar jangan sampai tersesat dijalan yang tidak dibenarkan oleh agama.

Nyaris di Kubur Hidup-hidup oleh Lelembut

Nyaris di Kubur Hidup-hidup oleh Lelembut

MyMisteri Leony Li
- Karena cuma menggantungkan hidup sebagai petani, kehidupan Pak Tarno (nama samaran) pas-pasan. Apalagi petani di daerah tandus kawasan Balikpapan utara. Seperti umumnya petani Pak Tarno juga memelihara hewan peliharaan, meski hanya 5 ekor kambing terdiri empat betina satu jantan.

Begitu anak-anak kambing betina sudah sedikit besar, langsung dijual di pasar untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Maka jumlah kambing yang menjadi sumber mata pencaharian itu, tetap saja hanya lima ekor.

Sementara itu untuk memenuhi makan sehari-hari, Pak Tarno memanfaatkan hasil tegalannya. Seperti ubi, singkong, tales, garut, lembong dan sebagainya. Di musim paceklik, sering terjadi pencurian hewan kambing di daerahnya. Karena kambing merupakan sumber penghasilan, kambing Pak Tarno pun dijaga amat ketat.

Hampir setiap malam dia tidur di muka kandang kambingnya, meski harus menahan bau pesing air kencing kambing. Senjata yang disanding bukan merupakan senjata tajam, melainkan alu penumbuk padi yang jarang dipakai itu.

Suatu malam bulan purnama, kebetulan malam Selasa Kliwon, Pak Tarno juga menjaga kambing-kambingnya. Menjelang tengah malam Pak Tarno hanya terbaring di lincak dan belum bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba mendengar langkah beberapa orang mendatanginya.

Semula dia menduga yang datang adalah orang-orang atau tetangganya yang sedang melakukan tugas ronda. Tapi ternyata jumlah orang yang datang amat banyak, sebagian ada yang membawa peralatan lengkap untuk mengubur orang yang meninggal.

Misal keranda, tempayan air untuk memandikan jenazah, bunga siwur (gayung). Ada pula yang membawa meteran dan kain kafan, sekop, pacul dan sebagainya. Tanpa basa-basi orang-rang itu langsung menggeruduk Pak Tarno.

Ada empat orang tinggi besar memeganginya kuat-kuat, sehingga Pak Tarno tak bisa berkutik. Kemudian ada yang mengukur panjang badan Pak Tarno dengan meteran. Pak Tarno berusaha berteriak, tetapi ada yang membungkam mulutnya dengan tangan.

Meski berusaha melawan dan meronta-ronta, pakaian Pak Tarno bisa dilepas semuanya. Tidak tahu dari mana air diperoleh, tahu-tahu ada beberapa orang menyirami dengan air bunga yang diambil dari tempayan.

Pak Tarno terheran-heran sebab meski belum meninggal tapi orang-orang itu membungkusnya seperti jenazah. Terang saja Pak Tarno gelagapan. Tapi mereka tetap nekat dan memasukkan Pak Tarno ke dalam keranda. Lalu diusung menuju tempat pemakaman.

Di tempat pemakaman, Pak Tarno mendengar orang-orang itu sedang menggali lubang kubur. Suara nafas penggali kubur itu terdengar ngos-ngosan. Sesekali terdengar pembicaraan, tapi tak jelas artinya. Setelah lubang kubur selesai digali, Pak Tarno lalu dikeluarkan dari keranda. Ketika diangkat dan akan dimasukkan ke dalam lubang kubur, Pak Tarno meronta-ronta.

Tapi sebelum dimasukkan lubang kubur, tiba-tiba ada sinar lampu senter menerangi rombongan pelayat itu. Lampu senter itu berasal dari para petugas ronda yang sedang berkeliling.

Terang saja para peronda curiga melihat banyak orang berada di kuburan malam hari. "Hei, siapa mengubur pada malam-malam begini?" seru salah seorang peronda. Mendengar teguran itu, rombongan itu lari berhamburan. Pocongan yang berisi Pak Tarno langsung dilepas orang-orang yang berada di atas lubang kubur itu.

Karuan saja tubuh Pak Tarno terjatuh ke dalam lubang kubur, grubrak! Ketika orang-orang itu dikejar para peronda, mereka cepat sekali menghilang. Liang kubur itu lalu diperiksa. Peronda segera memeriksa lubang kubur.

Mereka kaget melihat wajah Pak Tarno menyembul dari pocongan dan berteriak minta tolong. Semula para peronda nyaris berlarian takut melihat pocongan bisa bergerak-gerak, tapi setelah tahu pocongan itu benar-benar manusia hidup, mereka cepat-cepat menolong.

Lebih lagi ternyata yang dipocong itu adalah warga setempat. Pak Tarno yang bugil itu lalu dipinjami sarung dari peronda. Sampai di rumah, Pak Tarno dirawat semestinya.

Setelah ditanyakan pada salah satu paranormal, rumah Pak Tarno memang angker dan sering didatangi lelembut. Maka lalu diberi penangkal oleh paranormal tersebut.