Showing posts with label Genderuwo. Show all posts
Showing posts with label Genderuwo. Show all posts

Grup Dangdut 3 Macan Yang Diganggu Makhluk Halus

Grup Dangdut 3 Macan Yang Diganggu Makhluk Halus

MyMisteri Leony Li - Yenny mengatakan kalau Pengalaman paling mengerikan adalah berurusan dangan makhluk halus, diganggu hantu berbadan besar saat berada di kamar, apalagi sejenis genderuwo.

"Kejadiannya setiba saya pulang dari show. Saya pulang ke rumah orang tua. Saya tidur di kamar sendiri, dan saya sadar betul sebelum tidur pintu kamar saya sudah tertutup rapat," katanya mengawali ceritanya.

"Pas saya sudah tidur, kedengeran orang buka pintu kamar dan bener-bener kebuka pintunya, dan saya lihat di depan kamar ada kayak menyerupai orang tapi tinggi banget, besar dan berbulu, tangan nya panjang banget, dia masuk kamar Yenny," katanya melanjutkan.

Seperti yang dituturkan Personel grup dangdut 3 Macan ini, Tak pelak kejadian itu mengejutkannya setengah mati. Beruntung, pedangdut berambut merah itu hanya sebentar saja dari penampakan makhluk halus itu.

Yenny juga mengatakan bahwa dirinya pernah menjadi sasaran santet. Hal itu dilakukan oleh orang yang iri padanya. "Tapi itu (santet) kena pembantu aku. Parno banget," katanya.

Pengalaman berbeda dituturkan Selvi 'Duo Walangsangit'. Selvi mengatakan dirinya pernah diusik hantu anak kecil di kos temannya.

"Pas aku tidur digangguin, dicolek, pipiku diteken, itu berasa. Kedua dia teken pipi aku lagi. Aku melek, aku lihat langsung, dia ketawa. Yang aku lihat putih kaya anak kecil," sahut Selvi.

Selvi lantas mengisahkan bagaimana ia bisa memiliki kelebihan peka terhadap alam gaib. "Mungkin aku ada keturunan Abah aku yang memiliki kemampuan supranatural. Mungkin nurunin kali ya. Awalnya cuma ngerasain. Makin ke sini, aku bisa lihat. Umur 18 udah bisa lihat," tuturnya dengan mengakhiri ceritanya.

Diganggu Genderuwo Saat Tidur

Diganggu Genderuwo Saat Tidur

MyMisteri Leony Li
- Berbagai upaya tidur dimana terasa badan di himpit atau di tindih mungkin pernah sahabat rasakan, dan mengakibatkan kita terasa tidak dapat bangun, bergerak dan menjerit.

Hal ini pula yang pernah saya alami saat tidur di kios tempat saya bekerja, yang saat ini dipakai sebagai pos utama Warung Edukasi. Ini adalah pengelaman pertama saya melihat makhluk yang katanya bernama genderuwo.

Malam itu kami bertiga, saya, Adi dan Ade, tepatnya malam Jumat tanggal 19 Januari tahun 2006, tidur di kios itu karena malam sudah larut dan jam dinding sudah menunjukkan angka jam 00:30.

Kamipun tidak mengalami kesulitan untuk segera lelap karena badan sudah letih setelah kerja seharian bahkan hingga larut malam. Di tegah pulasnya tidur, saya tiba-tiba merasa ada himpitan yang menyebabkan saya merasa sesak untuk bernafas sehingga saya terbangun.

Saat mata saya terbuka, saya sangat takut karena mata saya yang memandang ke atas tertuju pada wajah yang seram dengan tubuh yang besar dan berbulu lebat. Saya juga melihat dan merasakan bahwa yang membuat saya merasa sesak adalah kakinya yang menginjak perut dan dada saya.

Saya langsung berontak dan berteriak sambil menyingkirkan kaki itu dari perut. Saya berhasil melepaskan diri dari injakan kaki gondoruwo itu. Teriakan saya ternyata membangunkan kedua rekan saya, Adi dan Ade yang tidur di sebelah saya.

Adi yang memang memiliki kemampuan penglihatan terhadap makhluk gaib, segera membantu menenangkan saya dengan menyodorkan segelas air minum, yang kemudian setelah komat-kamit sebentar lalu ia berbicara keras "Hei, kamu jangan sembarangan di sini, kami yang punya kuasa di tempat ini, jika kamu tidak segera pergi dari tempat ini jangan salahkan saya jika saya hajar kamu".

Sementara Ade yang merasa tidak melihat apa-apa dan bahkan merasa terganggu tidurnya hanya berkata "kalian malam-malam begini bikin ulah aja", dan sayapun segera manjawab dengan keras "bikin ulah apaan, gua diinjak gondoruwo tau".

"Ah kau ngimpi kali" katanya sambil menutupkan selimut ke wajahnya untuk kembali tidur. Adi hanya tersenyum melihat kelakuan si Ade.

Kejadian tersebut tidak membuat saya takut tidur di tempat tersebut karena di tempat itulah kami selalu bermalam, dan sampai kini kejadian itu tak pernah terulang lagi karena menurut Adi, si Gondoruwo sudah pergi dari tempat kami itu.

Sumber: infomistik.com

Gambar nyata Genderuwo

MyMisteri Leony Li
MyMisteri Leony Li
- Warga Indonesia sudah tidak asing lagi dengan nama genderuwo, makhluk ini sudah dikenal lama di indonesia dan belakangan ini warga kota Rembang dihebohkan oleh adanya foto makhluk halus yang diperkirakan adalah jenis Gendruwo.

Gendruwo setinggi hampir 4 meter itu secara tidak sengaja diambil gambarnya, persis di samping pintu bagian depan ruangan untuk uji kir kendaraan kantor Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika di pinggir jalur pantura dusun Kaliuntu desa Pasar Banggi Rembang.

Bangunan kantor tersebut baru sekitar 3 bulan ditempati, karena sebelumnya untuk kegiatan uji kir kendaraan berada di kantor Dinas Perhubungan yang lama, Jl Kartini Rembang. Awalnya foto diambil oleh salah satu pegawai untuk dokumentasi.

Kehebohan terjadi setelah hasil foto yang dicetak terdapat gambar aneh sosok tinggi besar, berambut panjang, berwarna hitam dan berbulu cukup lebat. Gambar yang diyakini sebagai makhluk halus Gendruwo tersebut, juga tampak membawa seikat barang berwarna hijau diperkirakan adalah seikat buah petai.

Foto tersebut saat ini semakin beredar luas, karena banyak yang mengambilnya dengan kamera telefon genggam. Sejumlah warga maupun pegawai negeri di kota Rembang hangat membicarakan fenomena ini.

Salah satu PNS dilingkungan Pemkab Rembang, Santi Sugiyanti mengakui dirinya mendapatkan foto Gendruwo itu kali pertama dari anaknya yang kebetulan bekerja menjadi pegawai di Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika

 Saat melihat foto tersebut, bulu kuduknya langsung berdiri karena merasa takut. Dimintai tanggapannya seputar foto Gendruwo itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika kabupaten Rembang Djamin menyatakan setahu dia foto tersebut memang bukan rekayasa.

Pihaknya menganggap selama tidak mengganggu, tak perlu diributkan. Yang terpenting setelah marak beredar foto Gendruwo, semua staffnya tak ada yang terpengaruh. Aktivitas pegawai tetap berjalan seperti biasa, termasuk jadwal piket malam.

Djamin menuturkan tanah yang ditempati kantor Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika, bagian belakangnya bersebelahan dengan areal pemakaman. Dirinya tak ingin mengaitkan dengan makam, tetapi lebih pada keyakinan bahwa disamping kehidupan manusia, ada kehidupan dunia lain.

Asal Usul Setan Genderuwo

Asal Usul Setan Genderuwo

MyMisteri Leony Li
- Genderuwo adalah makhluk mistik dari kepercayaan dari agama Hindu dan Budha. Menurut mitos masyarakat jawa, hantu genderuwo atau yang lebih sering disebut genderuwo saja adalah sejenis makhluk dari bangsa jin atau makhluk halus.

Genderuwo dikatakan berasal dari arwah manusia yang meninggal penasaran karena bunuh diri, penguburan yang kurang sempurna ataupun karena kecelakaan.

Kebanyakan dari masyarakat kita dalam memanggil genderuwo tidaklah baku, ada yang memanggil hantu genderuwo, setan genderuwo atau cukup genderuwo saja. Makhluk ini bisa dikategorikan sebagai PK (Penjahat Kelamin) karena kebiasaannya yang suka berbuat cabul kepada wanita.

Menurut cerita, Genderuwo sangatlah usil. Itu bisa dilihat dari kebiasaannya yang suka memindahkan celana dalam wanita, menepuk pantatnya, mengelus-ngelus tubuh wanita ketika tidur bahkan yang paling parah adalah meniduri wanita-wanita yang kesepian ditinggal suaminya.

Genderuwo akan menyamar sebagai suami wanita tersebut dan akan mengajak wanit tersebut bersenggama dan konon hubungan antara wanita dan Genderuwo ini bisa menghasilkan keturunan. Menurut kepercayaan, Genderuwo bisa dipanggil dengan menggunakan sesajen sate burung gagak.

Ritual ini dimulai dengan harus menangkap burung gagak atau bisa juga membelinya, kemudian burung gagak tersebut harus di sembelih menggunakan pisau yang sangat tajam agar darah nya keluar dengan lancar dan ini dipercaya turut mempengaruhi kelancaran pemanggilan Genderuwo.

Kemudian, gagak tersebut tersebut bulunya dibersihkan dan setelah beres. Daging gagak tersebut ditelikung seperti halnya membuat ingkung ayam dan ritual pembakaran sate gagak bisa dimulai. Namun ritual ini tidak akan berhasil jika tidak memakai mantra dan hanya sebagian kecil orang saja yang menguasai mantra pemanggil Genderuwo.

Ritual pemanggilan Genderuwo ini dilakukan, sebagian besar untuk meminta nomor judi buntut yang konon akan selalu jitu jika diberitahu oleh Genderuwo. Seperti hal nya kuntilanak dan sundel bolong.

Keberadaam Genderuwo tidak akan bisa dilihat kecuali oleh orang yang memiliki mata bathin. Asal usul setan Genderuwo mungkin tidak akan pernah diketahui secara pasti oleh kita semua.

Dikencani Genderuwo Belang Penghuni Sumur Tua

Dikencani Genderuwo Belang Penghuni Sumur Tua

MyMisteri Leony Li
- Sepak terjang jin yang suka mengumbar nafsu syahwat terhadap manusia sudah sering diungkap di media cetak maupun media elektronika. Dan hingga kini, kontroversi hubungan intim mahluk dari dua dunia masih terus bergulir.

Ada yang menyatakan bisa, tapi, banyak pula yang menyatakan tidak mungkin! Sebagian sosok yang gemar menggeluti dunia supranatural berkomentar, "Mustahil jin akan mampu mengintimi atau diintimi oleh manusia saat dirinya masih berwujud jin. Oleh karena itu, orang bisa mengintimi atau diintimi jin saat dia telah maujud menjadi manusia."

Terlepas dari kontroversi dan pendapat yang beredar di tengah-tengah masyarakat, pada penghujung tahun lalu, di Di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pernah dihebohkan oleh suatu peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan oleh jin kafir atau biasa dijuluki Genderuwo Belang terhadap seorang ibu muda beranak dua.

Menurut tutur yang berkembang, di antara puluhan jenis jin, maka, Genderuwo Belang tercatat yang paling gampang tergoda birahinya terhadap kaum wanita dari bangsa manusia. Jadi bukan hal yang  aneh jika jin kelas rendahan ini lebih memilih untuk tinggal di dalam sumur tua atau pohon kawak di sekitar pemukiman penduduk.

Dan kali ini, yang menjadi korbannya adalah yang bernama Ny. Wati, 28 tahun, sebut saja begitu. Perempuan bertubuh sintal ini adalah merupakan isteri dari Ngadino, 36 tahun, dan sekaligus ibu dari dua orang anak.

Kurniasih, 10 tahun dan Rita, 2 tahun. Menurut penuturannya kepada Misteri, sebelum tinggal di Sleman, suami-istri yang sama-sama tamatan SLTA ini selama 15 tahun tinggal di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Gajah Mati, Desa Karak, Kecamatan Bungo, Kabupaten Bungo, Sumatera Selatan.

Ya, Wati yang lahir di Indramayu dan Ngadino asal Tegal, Jawa Tengah itu ikut orangtua masing-masing sebagai transmigran di Sumatera Selatan. Bak asam di gunung garam di laut bertemu dalam belanga, meski beda UPT, tetapi, dua anak muda itu saling jatuh cinta dan menikah di tanah perantauan.

Di tengah-tengah kerimbunan lading cengkeh, cinta kasih keduanya membuahkan dua orang putri yang cantik-cantik dan lucu. Dan ketika Rita berusia setahun, kakek Wati memintan dia segera  pulang ke Indramayu untuk mengelola pabrik beras pusaka peninggalan keluarga mereka secara turun temurun.

Dan setelah mendapatkan izin dan restu ari kedua orang tua masing-masing, akhirnya, Wati bersama suami serta kedua anaknya pulang ke kampung halamannya. Indramayu, tepatnya di Sleman. Di tempat yang baru, Wati bersama keluarganya menempati rumah mungil yang bangunannya menyatu dengan huller. Sebutan untuk pabrik beras.

Sebagai putri daerah, dalam waktu yang tak begitu lama, Wati pun langsung akrab dengan warga sekitarnya. Begitu juga Ngadino yang ramah dan rajin sholat berjamaah di mesjid. Bahkan, hanya dalam waktu beberapa bulan, Ngadino telah dipercaya untuk menjadi pengurus Jamiyah Al Waqiah guna mendampingi Ustadz Busro yang mulai uzur serta sudah terlalu lama menjadi pucuk pimpinan kelompok keagamaan di desa tersebut.

Secara kebetulan, sepanjang lima tahun teakhir, panen musim tanam rendeng dan musim tanam gadu tahun lalu adalah yang paling bagus hasilnya. Sudah barang tentu, huller yang dikelola Wati pun menjadi amat ramai. Sebab setiap kali memasuki penen raya, selain melayani masyarakat setempat, sejak dulu, huller tersebut juga melayani kontraktor pengadaan beras Bulog.

Seperti biasa, setelah dikurangi bahan bakar minyak dan upah kuli, sesuai perjanjian, uang yang masuk pada tiap harinya langsung dibagi dua. 40 persen masuk dompet Wati, sementara yang 60 persen menjadi hak pemilik huller.

Sebagai lelaki yang ulet dan enggan berpangku tangan, untuk menambah penghasilan, Ngadino pun ngobyek gabah dari rumah ke rumah petani baik yang tinggal di satu desa setempat maupun ke luar wilayah Kecamatan. Sementara, huller dioperasikan oleh lima orang karyawannya. Seperti biasanya, gabah yang dibeli dari petani dan telah digiling menjadi beras lalu dibeli kontraktor pengadaan Bulog dengan selisih harga yang cukup besar.

Tak pelak, tiap harinya, Ngadino pun lebih banyak di luar rumah. Wati yang mafhum terhadap keberhasilan dan keuletan suaminya benar-benar amat menikmati keadaan itu, sebagai wanita normal, dia merasa terpuaskan manakala perhiasan emas melilit leher jenjangnya serta melingkari lengan dan jari jemarinya.

"Pokoknya secara ekonomi, perubahannya amat drastic ketimbang kami masih tinggal di Sumatera," aku Wati kepada Misteri. Siang itu hujan mengguyur sangat deras selang beberapa jam setelah keberangkatan Ngadino ke luar Kecamatan untuk ngobyek gabah.

Para kuli pun dengan tergesa-gesa mengamankan jemuran gabah yang terhampar di halaman huller. Dan setelah gabah sudah berhasil ditutup terpal pastik, mereka pun bergerombol di dalam huller sambil minum kopi dan berbincang ngalor-ngidul.

Sementara itu dapur, Wati sedang sibuk menyiapkan makan siang buat mereka. Dan untuk menghindari kejenuhan, Wati sengaja mendengarkan radio FM yang diletakannya di atas meja dapur. Agaknya, lantunan lagu-lagu dangdut dan celoteh humor sang penyiar radio mampu meredam suara guyuran hujan di atas genteng.

Sambil bersenandung kecil mengikuti lagu dangdut yang tengah dilantunkan, jemari Wati pun dengan lincahnya menyiangi sayur dan daun polong. Di atas kompor, kini, minyak di dalam wajan mendesis-desis dan berubah riuh manakala sisiran daun polong dan bumbu dimasukkan ke dalamnya.

Seketika, bau gurih bumbu lodeh langsung memenuhi kamar dapur yang lumayan sempit itu, tak berapa lama kemudian, cincangan sayur dan wortel pun dimasukkan ke dalam bumbu ditambah segayung air dari gentong.

Ketika dari corong radio 2 band, terdengar suara sang penyiar menyatakan akan menutup acara dangdut untuk diganti acara pop dengan penyiar yang lainnya, karena kurang suka lagu pop, Wati pun bermaksud menggeser ke frekuensi lain yang menyuguhkan acara dangdut.

Bertepatan dengan memutar badan untuk menghampiri radionya, wanita berparas cantik itu seketika terlonjak kaget. Rupanya, tanpa disadari, sejak tadi dia sedang diperhatikan oleh suaminya, Ngadino yang bersandar pada kusen pintu dapur. Setelah sirna dari rasa terkejutnya, buru-buru, Wati melempar senyum ke arah suaminya sambil melontarkan pertanyaan ringan. "Kok buru-buru pulang Kang? Gabahnya sudah dapat belum", tanya Wati dengan manja. "Cari gabahnya nanti saja. Aku sengaja pulang karena sudah tak tahan," jawab Ngadino sambil menyeringai penuh arti dan melangkah menghampiri isterinya.

Seketika, Wati membalas pelukan suaminya dengan gerakan manja dan telapak tangannya mendarat di pundak suaminya. Sejenak kening Wati berkerut. Dia benar-benar merasa aneh, sementara hujan di luar begitu lebat, tetapi, kenapa baju suaminya tidak basah. Kenakalan tangan Ngadino, seketika mampu menepiskan kecurigaan itu.

Bahkan, dengan manja Wati pun bergayut di pundak Ngadino dan keduanya beriringan menuju kamar tidurnya. Wati sempat melirik ke serambi rumahnya. Dia melihat Bik Inah, isteri salah seorang karyawannya sedang mengasuh Rita, sedang Kurniasih masih di sekolah.

Tidak seperti biasanya, kali ini, Wati benar-benar dibuat benar-benar terkapar oleh suaminya. Selain ganas, hampir satu jam suaminya baru tuntas. Bertepatan dengan usainya pertarungan birahi, sontak, hidung Wati mencium bau sangit hingga dengan bergegas ia meninggalkan ranjangnya menuju dapur.

Wati dibuat geram manakala menemukan sayur lodehnya nyaris menjadi arang dengan asap yang menggumpal. Sambil menggerutu, Wati terpaksa memasak lagi sayur lodehnya sebelum mandi besar.

Menjelang Maghrib, truck penuh karung gabah memasuki halaman huller. Dengan sigap, Ngadino mengatur kuli agar segera membongkar muatan, setelah itu, ia bergegas memasuki ruang tamu. Di serambi dia berpapasan dengan istrinya yang tampak cerah.

"Untung aku datang lebih pagi, telat sedikit saja pasti sudah disabet orang lain. Juragan itu butuh uang banyak untuk menerbangkan anaknya ke Korea sehingga menjual semua hasil panennya. Rezeki nomplok, Nok," demikian celoteh Ngadino di depan istrinya.

Wati balas memuji keberhasilan suaminya dengan kening berkerut. Ya, dia pantas bingung mendengar celoteh suaminya. Bagaimana bisa ngomong pagi-pagi, sementara pukul 10 lewat suaminya baru berangkat lagi mencari obyekan gabah seusai berhubungan intim dengannya. Apakah salah mengucap ataukah sekadar melampiaskan rasa bangganya atas perolehan gabah yang memang sangat banyak.

Keanehan demi keanehan terus mengisi ruang pikiran Wati, terutama kebiasaan baru suaminya, berangkat pagi buta dan pulang lagi pukul 9 atau 10 hanya untuk berhubungan badan kemudian berangkat lagi ngobyek gabah ke luar Kecamatan. Malamnya, akibat serangan kantuk yang sangat sulit ditepiskan, membuat hasratnya musnah terhadap sentuhan jemari Ngadino serta bisikan lembut pada daun telinganya. Beruntung, Ngadino mau berlapang dada atas penolakan Wati yang memang tampakamat mengantuk di balik selimutnya.

Seperti pagi-pagi yang lalu, sebelum memulai aktivitas di dapur, Wati terlebih dulu mencuci beras di sumur yang terletak di belakang huller. Walau sumur tua, namun airnya jarang kering serta sejernih air ledeng. Semasa masih ingusan, Wati sudah biasa menimba air untuk mandi di sana. Kali ini, sambil menurunkan ember plastik, sepasang mata Wati

terus mengikutinya hingga pantat ember menyentuh permukaan air sumur. Saat itu, ada getaran kuat dan sangat ganjil merasuki bathinnya. Ya … getaran hasrat wanita dewasa terhadap lelaki yang amat dicintainya. Begitupun ketika menenteng bakul berisi cucian beras di pinggang kanan dan tangan kiri menenteng ember berisi air, Wati merasa seolah ada sepasang mata menatap punggungnya.

Didorong penasaran, dia langsung  menoleh ke belakang. Tak ada yang berubah, di sana hanya ada sumur tua. Tak ada siapa pun selain kesunyian yang mistis. Keanehan lainnya, hari-hari terakhir ini entah kenapa Wati begitu gampang terbuai oleh lamunan. Pikirannya kosong. Hanya dipenuhi oleh hayalan masa lampau yang menari-nari dengan ritmis lembut dalam ruang jiwanya.

Selain gampang terbuai lamunan, emosinya pun sangat mudah terpancing. Terkadang spontan marah tanpa sebab dengan sasaran siapa saja yang ada di dekatnya. Tidak terkecuali Kurniasih bahkan si bungsu yang masih polos.

Lamunannya buyar akibat suara langkah kaki di belakangnya. Buru-buru dia menoleh ke belakang. Dan beberapa langkah di belakangnya berdiri Inah dengan tatapan ganjil. Inah pun menyapa majikannya dengan nada iba dan penuh kasih.

"Kalau boleh, biar saya saja yang menyiapkan makan siang. Bu Wati kelihatan pucat sekali, jangan-jangan Ibu sedang sakit," kata Inah. "Tidak perlu repot, Rita mana?" Ujar Wati sambil bertanya. "Lagi ditemani Kang Trisno di huller," jawab Inah tetap sambil menunduk. "Jangan ganggu suamimu, bukankah dia sedang bekerja. Sudah sana," bentak Wati.

Inah tertegun beberapa saat. Baru kali ini dia melihat majikannya beraku sekasar itu. Tanpa disuruh duakali, Inah langsung meninggalkan dapur menuju huller. Belum lagi kejengkelan itu hilang, kembali Wati dikejutkan suara langkah kaki di belakangnya. Kali ini dia sudah tidak mau kompromi lagi  terhadap Inah. Sambil memutar badan dia bersiap-siap membentak. Tapi apa daya, suaranya tersangkut di kerongkongan.

Beberapa langkah di depannya berdiri Ngadino dengan tatapan penuh hasrat. Dan kali ini, untuk pertamakalinya dia menegur suaminya yang doyan menyusup ke dapur saat dirinya mulai memasak. Wati tidak mendapat jawaban selain rengkuhan hangat dari Ngadino.

Jika sudah direngkuh seperti itu, maka, hasrat kewanitaannya langsung terpancing. Hingga tanpa banyak pertanyaan lagi, Wati pun langsung mengikuti langkah suaminya menuju peraduan.

Seperti biasa, cumbuan yang panas pun terjadi. Kini, pakaian keduanya mulai tercecer di lantai. Dan di balik selimut, mulut dan tangan keduanya sibuk dengan aktivitas birahi yang bergelora. Pada detik-detik selanjutnya, yang terdengar hanyalah erangan dan rintihan dari celah bibir Wati mengimbangi orang yang dicintainya tengah mengayuh kenikmatan.

Setengah jam berlalu begitu cepat, dan kain selimut sudah melorot ke lantai. Kini keduanya mengayuh kenikmatan tanpa selembar penutup pun. Sebelum puncak birahi berhasil dicapai, daun pintu didobrak dari luar disusul cairan bening yang mengguyur punggung Ngadino dan sebagian membasahi dada Wati.

Hanya dalam hitungan detik setelah diguyur air bening, sontak, Wati merasakan ketakutan luar biasa. Betapa tidak, sosok laki-laki yang ada di atas tubuhnya menggeram sangar dan tubuhnya bertambah berat menindihnya.

Sebelum Wati sadar dengan apa yang telah terjadi, lengannya dibetot sangat kuat hingga tubuhnya terseret ke atas lantai. Secara reflek, Wati buru-buru menyambar kain selimut untuk menutupi tubuh polosnya.  Seketika Ngadino merengkuh tubuh Wati dengan penuh kasih. Sementara, di sampingnya tampak Ustadz Busro yang terus menerus membacakan ayat suci dengan ritme sangat cepat.

Sementara di atas ranjang yang ada bukan Ngadino, melainkan sosok bugil sangat mengerikan. Tubuhnya begitu besar nyaris memenuhi permukaan ranjang. Dan yang paling mengerikan adalah bentuk wajahnya. Wajah dan tubuhnya berkulit Zebra, berambut gimbal juga menguarkan bau apek yang teramat menyengat dan memenuhi ruang kamar tidur itu.

Makhluk menyeramkan itu menggerung-gerung histeris, karena kesakitan yang tak teranggungkan. Pada bagian punggung yang terkena siraman air mengepulkan asap bak air raksa yang melelehkan logam. Dan pelan-pelan makhluk itu duduk di atas ranjang dengan kepala nyaris menyentuh penyangga kelambu.

"Tidak kusangka, engkau ternyata Genderuwo Belang terkutuk!" Bentak Ustadz Busro. "Hrrrhh…ampoooun…ampouun menusaaa. Hanaaas...hanaaasss!" "Baik, engkau saya ampuni. Tapi, sebelum saya lepas, ada syarat yang harus kamu kerjakan. Sanggup?!" Tanya Ustadz Busro. "Hatakan menusa. apa syaratnya?"

"Pertama, bersihkan segala kotoranmu yang ada pada Bu Wati. Kedua, tinggalkan sumur tua itu dan jangan ulangi perbuatan bejatmu kepada wanita manapun dari bangsa manusia. Lakukan syarat itu, lekas!" Bentak Ustadz Busro.

Makhluk itu lenyap dalam sekejap, seiring Wati seolah merasakan ada sengatan listrik yang keluar dari alat vitalnya. Akibatnya, Wati pun terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Ngadino. Wati tal sadarkan diri nyaris seharian dan baru siuman bertepatan dengan lantunan adzan Maghrib dari corong mesjid. Semoga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dari cerita ini, betapa, iblis tak jemu-jemu menggoda manusia sampai akhir dunia tiba.

Beristri Genderuwo Alas Purwo

Beristri Genderuwo Alas Purwo

MyMisteri Leony Li
- Sebagai pegawai yang bertugas di bidang kehutanan, Adi harus siap untuk ditugaskan di mana saja serta berpindah-pindah tempat. Kali ia harus menerima ditempatkan di ujung timur Pulau Jawa.

Banyuwangi, kota yang sarat dengan nuansa mistik serta terkenal dengan magic-nya, yakni santet. Ya, di kota inipun Adi juga harus ditempatkan di Alas Purwo, sebuah kawasan hutan yang ada di Banyuwangi dan berbatasan dengan Samudera Indonesia di pantai selatannya.

Alas Purwo yang merupakan taman nasional terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo di sebelah selatan dan tenggara Banyuwangi. Arti kata Alas Purwo atau Hutan Purwo diyakini memiliki arti hutan yang pertama atau hutan yang dianggap tertua di Pulau Jawa.

Hal ini ditandai dengan banyaknya situs-situs yang dianggap keramat oleh masyarakat seperti Gua Padepokan ataupun Gua Istana. Di Alas Purwo juga masih banyak satwa langka seperti banteng, lutung, burung merak, ayam hutan, rusa, macan tutul.

Tak kalah menariknya Alas Purwo juga mempunyai banyak pantai indah seperti Teluk Grajagan dan Plengkung yang mempunyai satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang dan penyu belimbing.

Kini hampir setahun Adi menempati posisi pekerjaannya yang baru. Berbagai pengalaman didapatnya di Alas Purwo ini terlebih menyangkut hal-hal yang bersifat gaib.

Namun selama satu tahun bertugas di alas Puwo ini, ia merasa hutan dengan luas 43.420 hektar ini belum dijelajahinya secara sempurna. Masih banyak tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak tersentuh tangan manusia karena kewingitannya dan juga kebuasan alamnya.

Seperti pengalaman ia harus mengantar serombongan pengunjung yang datang dari Surabaya. Rombongan yang berjumlah lima orang menyatakan akan melakukan ritual di sebuah gua yang ada di Alas Purwo.

Keangkeran Alas Purwo ternyata juga merupakan daya tarik bagi para pelaku spiritual untuk menjalankan lelaku di tempat tersebut. Karena itu tidak aneh kalau sering ditemukan banyak orang yang melakukan semadi di segenap pelosok Alas Purwo.

Pak Puguh yang merupakan pimpinan rombongan menyatakan kalau kedatangan mereka ke Alas Purwo untuk melakukan ruwatan atas Sigit. Adi lantas menatap ke arah pria paroh baya yang bernama Sigit itu.

Pria itu tampak duduk diam, pandangan matanya kosong entah menerawang kemana. Ia juga tidak menggubris apa yang terjadi di sekitarnya. Semula Adi mengira yang bersangkutan merupakan orang yang terganggu ingatannya. Namun setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh Aris, salah seorang kerabat Sigit yang ikut  mengantarkan, Adi tercekat.

Sepuluh tahun yang lalu Sigit datang ke Alas Purwo untuk menjalankan ritual setelah perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar, ia juga harus mengalami PHK dari perusahaannya tersebut. Karena merasa putus asa juga merasa malu kepada anggota keluarga yang lain Sigit memutuskan untuk pergi ke Alas Purwo dan menjalankan ritual di tempat tersebut.

Salah satu tempat yang digunakan oleh Sigit untuk menjalankan ritual adalah gua istana. Di tempat tersebut ia bersemadi dan hidup sebagai pertapa hampir satu tahun. Sampai akhirnya ia menyelesaikan tapanya dan pulang kembali ke Surabaya. Setelah itu Sigit berdagang pakaian anak-anak. Walaupun berjualan di emperan toko, jualannya tersebut laris manis dan selalu dipenuhi oleh para pembeli.

Namun anehnya, anggota keluarga Sigit kerap menemui Sigit tertawa dan berbicara sendiri jika tengah berada dalam kamarnya. Anggota keluarganya juga sering mendengar suara perempuan tertawa.

Anggota keluarga yang lain semula mengira Sigit sedang berduaan bersama seorang gadis atau wanita. Namun dugaan ini tak terbukti karena mereka tidak pernah melihat ada gadis dalam kamar Sigit. Kejadian ini bahkan berlangsung bertahun-tahun. Tiap kali ditanya, yang bersangkutan hanya tersenyum kecil seakan penuh arti. Jadinya keluarga Sigit bertanya-tanya.

Namun karena tidak dianggap mengganggu anggota keluarga Sigit yang lain, maka tingkah lakunya dibiarkan saja. Terlebih Sigit sendiri dengan usahanya yang lumayan tersebut kerap membantu kesulitan ekonomi yang dialami oleh keluarganya tersebut.

Namun akhir-akhir ini yang terjadi adalah tingkah laku Sigit yang semakin aneh. Hampir tiap malam mereka mendengar suara pertengkaran di dalam kamar Sigit. Juga suara barang yang dibanting karena pertengkaran yang ramai. Mendengar suara-suara ribut tersebut, saudara Sigit segera memasuki kamar.

Namun lagi-lagi mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar tersebut kecuali Sigit. Hanya saja kondisi Sigit, tampak pucat dan panik. Ia juga berkali-kali berteriak untuk jangan ditinggalkan.

"Siapa yang meninggalkan kamu, Git?" tanya Aris waktu melihat kondisi adiknya tersebut. Sigit tidak menjawab, hanya kembali berteriak, "Rad, jangan tinggalkan aku…! Jangan Rad!" Mendengar perkataan Sigit itu, Aris kembali bertanya "Siapa Rad itu, Git?".

Sigit yang semula tak acuh dengan apa yang terjadi menoleh sekilas ke arah kakaknya sambil menjawab, "Radni, istriku…!" "Radni? Radni siapa, Git?" tanya Aris yang semakin merasa heran dengan ucapan Sigit. Ia kemudian duduk disebelah Sigit berusaha menenangkan adiknya tersebut.

Sementara matanya memberi isyarat anggota keluarga yang lain untuk tidak masuk ke dalam kamar dulu dan membiarkan mereka berduaan. Setelah tinggal mereka berdua di dalam kamar, Aris mencoba mencari tahu apa yang dialami adiknya.

"Aku merasa bingung, Radni itu siapa? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku?" Sigit menoleh ke arah Aris dan menjawab, "Radni itu istriku. Kami berkenalan di Alas Purwo" "Alas Purwo Banyuwangi?" Aris meyakinkan pendengarannya.

"Betul, Mas. Bertahun-tahun yang lalu aku kenal dengan Radni. Ia tinggal di sebuah perkampungan yang ada di Alas Purwo. Karena orang tuanya tidak merestui hubungan kami, makanya ia kawin lari dan hidup sebagai istriku. Ia yang selama ini membantuku berjualan di pasar," cerita Sigit.

"Kalau dia memang istrimu, kenapa kamu tidak pernah mengenalkan sama kami? Kami juga tidak pernah melihatnya?" Kening Aris berkerut merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut. "Radni itu takut ketahuan keluarganya dan dipaksa pulang. Makanya aku tidak mau mengenalkan pada kalian," jawab Sigit lagi.

Aris merasa pusing dengan jawaban-jawaban aneh dari Sigit itu. Dia lalu meninggalkan Sigit dan memutuskan untuk berunding dengan anggota keluarga yang lain. Namun semenjak kejadian itu tingkah laku Sigit semakin aneh dan menjadi-jadi. Kini ia bahkan mirip orang gila karena tingkah lakunya tersebut.

Sampai akhirnya diputuskan untuk memanggil Pak Puguh, seorang tua yang dikenal mampu menyembuhkan orang yang kesurupan. Dari hasil pengamatan Pak Puguh ternyata memang benar Sigit selama ini menjalani hubungan dengan makhluk halus dari golongan genderuwo.

Genderuwo perempuan itu juga jatuh cinta kepada Sigit dan mengikuti kemanapun ia pergi. Namun hal ini tak disadari oleh Sigit. Bagi Sigit, Radni adalah gadis desa dari sebuah desa di pinggir Alas Purwo yang kawin lari dengan Sigit karena hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua Radni.

Kini rupanya Radni berniat pulang ke Alas Purwo namun Sigit tak bersedia dan akhirnya yang terjadi seperti ini. Mendengar penuturan tentang Sigit tersebut, Adi tidak merasa heran kalau hal itu terjadi pada Sigit. Baginya Alas Purwo menyimpan seribu kegaiban dan seribu keanehan yang tidak akan pernah habis untuk ditelaah.

Kini rombongan itu dengan membawa Sigit bergerak menuju ke Gua Istana yang ada di Alas Purwo. Sesampai di sana Pak Puguh dengan salah seorang muridnya memandikan Sigit dengan air kembang yang telah disiapkan.

Sigit yang seolah tak mengerti dengan apa yang terjadi tidak menggubris apa yang dilakukan oleh orang-orang padanya. Sementara Adi sendiri turut membantu ritual yang dilakukan oleh Pak Puguh. Setelah sekian lama bersemadi tampak Pak Puguh membuka matanya. Ia memandang Aris serta kerabat Sigit.

"Rupanya sulit untuk melepaskan Sigit dari ikatan cintanya dengan Radni," tuturnya. "Sebetulnya apa yang terjadi, Pak Puguh?" tanya Aris dengan berdebar-debar melihat hasil semadi Pak Puguh.

"Bagi orang awam, Alas Purwo ini cuma merupakan hutan yang lebat dan penuh dengan binatang buas. Namun tidak dalam pandangan batin, Alas Purwo merupakan keraton makhluk halus yang bermacam-macam. Berjenis-jenis makhluk halus menghuni tempat ini. Ada kuntialanak, banaspati, jin, ilu-ilu bahkan genderuwo. Bukankah demikian Mas Adi?" toleh Pak Puguh pada Adi.

"Benar apa yang dikatakan oleh Pak Puguh. Saya selaku penjaga hutan disini sering menjumpai keanehan yang tak masuk akal. Makanya tak jarang orang bilang kalau Alas Purwo ini gudang makhluk halus," jawab Adi membenarkan ucapan Pak Puguh.

Pak Puguh lalu meneruskan ceritanya. Menurut dia, karena putus-asanya waktu bersemadi dulu, secara tak sadar Sigit telah masuk ke dalam alam makhluk halus. Di sanalah ia berkenalan dengan Radni. Genderuwo perempuan ini rupanya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Sigit.

Namun karena Sigit tidak mau tinggal di alam Radni, akhirnya mereka kembali ke kota asal Sigit. Dan Radni tetap mendampingi Sigit. Dan yang tak tetap disadari Sigit, Radni adalah seorang genderuwo. Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun Radni merasa tidak betah dan ingin kembali ke alamnya sendiri. Dan hal ini rupanya tidak bisa diterima oleh Sigit.

"Lalu seterusnya bagaimana Pak Puguh?" tanya Aris. Pak Puguh tersenyum. "Hal ini saya kembalikan lagi pada sanak keluarga Sigit." "Maksud Pak Puguh?" Aris merasa bingung.

"Cinta Sigit sudah terlanjur mendalam dan sulit dilepaskan. Bisa saja saya menghilangkan perasaannya terhadap Radni, namun yang terjadi akal pikiran Sigit tidak akan mampu berfungsi dengan normal. Selanjutnya ia akan ndleming terus," jelas Pak Puguh.

Mendengar penjelasan ironis tersebut Adi mencoba menengahi. "Apakah tidak ada pilihan lain Pak?" "Ada, tapi ini juga berat dan dianggap tak masuk akal," jawab Pak Puguh sambil menatap ke arah Sigit yang kini tertawa sendiri. "Rad, aku menyusulmu di kampung," guman Sigit seorang diri.

Semua orang merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Sigit. Namun akhirnya kebekuan itu terputus dengan ucapan Pak Puguh. "Kita biarkan Sigit hidup bersama Radni di alam Radni". "Apa? Maksud Pak Puguh bagaimana?" kejar Aris tanpa bisa menutupi rasa keingintahuannya yang besar.

"Ia akan kajiman dan berubah menjadi makhluk halus sebagaimana halnya dengan Radni," jelas pak Puguh. "Tidak.. Aku tidak rela adikku jadi genderuwo," tegas Aris. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tapi Aris sendiri juga tidak tega melihat apa yang terjadi pada Sigit kali ini.

Akhirnya setelah berpikir panjang, Aris memutuskan untuk membiarkan apa yang menjadi keinginan Sigit terwujud, kalau memang mereka berdua sudah saling mencintai. Pak Puguh pun lantas melanjutkan ritualnya. Ia menatap mata Sigit dengan tajam dan membuatnya tertidur seakan tidak tahu apa yang terjadi.

Kemudian tubuh yang terlelap itu dibungkusnya dengan kain mori hitam yang telah dipersiapkan. Sejenak nyala menyan memenuhi segenap ruangan yang ada di gua tersebut. Tak berapa lama bau menyan itu bercampur dengan bau singkong bakar yang memenuhi ruangan.

"Genderuwo perempuan itu sudah datang," tunjuk Pak Puguh pada sudut ruangan yang kini penuh dengan asap putih yang entah darimana asalnya. Gumpalan asap putih itu menumpuk dan akhirnya berwujud seseorang tubuh.

Aris melihat sosok perempuan yang cantik dengan memakai baju hitam-hitam tampak berjalan ke arah tubuh Sigit yang terbungkus mori. Sementara Adi yang sudah terbiasa melihat wujud makhluk halus yang ada di Alas Purwo bisa mengetahui wujud asli dari Radni.

Tampak sosok perempuan bertubuh tinggi besar penuh bulu dengan hanya memakai cawat dan payudara yang tidak tertutup berjalan ke arah tubuh Sigit. Sesosok genderuwo yang bernama Radni itu semakin mendekat ke arah Sigit terbaring.

Pak Puguh tampak mengucapkan seuatu seperti pesan kepada Radni. Dan ia tampak mengangguk-angguk mengiyakan pesan tersebut. Radni kemudian masuk menembus ke dalam mori tempat Sigit berbaring.

Setelah beberapa saat, Pak Puguh membuka mori tersebut. Ajaib! Tubuh Sigit sudah tidak tampak. Demikian pula Radni. "Mereka berdua sudah kajiman dan masuk ke dalam alam makhluk halus," papar Pak Puguh.

Aris cuma terdiam lesu menyaksikan apa yang telah terjadi. Sementara Adi kembali merenung, sekali lagi ia menyaksikan kegaiban Alas Purwo yang tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.

Hantu Wewe, Genderuwo Di Tanjakan Gombel Semarang

Hantu Wewe, Genderuwo Di Tanjakan Gombel Semarang

MyMisteri Leony Li
- Bila Anda masuk ke Kota Semarang dari arah Selatan, Anda akan melewati Tanjakan "Gombel". Nama "Gombel" menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat.

Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di Kota Semarang itu saat berziarah melewati tanjakan terjal dan curam. Saat itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit.

Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab musabab pemberian nama Gombel itu. Saat jaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T.de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan.

Sebab, saat itu pengembangan Kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa Kota Semarang.

Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal kawasan Bukit Gombel Semarang itu banyak dipakai sebagai area kuburan pengganti area kuburan Pekojan.

Sebab, sesuai adat Cina memindahkan jenazah bukanlah hal yang bisa seenaknya dilakukan. Akhirnya, penguasa wilayah saat penjajahan Belanda, Mr. Baron van Heeckeren mengusulkan kuburan di sekitar tanjakan Gombel itu khusus bagi kerabat dekat yang sudah dikubur di situ.

Pada saat ini kawasan tersebut adalah kawasan Kedungmundu. Pemekaran Semarang bagian Selatan dimulai pada tahun 1909. Berdalih permasalahan pemenuhan kebutuhan permukiman.

Thomas Karsten (1914) Gubernur Belanda yang merupakan ahli arsitek menyatakan Semarang Selatan merupakan salah satu kawasan yang terencana. Perencanaan tersebut saat itu digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan & memperbaiki lingkungan permukiman.

Tahun 1916, Semarang Selatan mulai berkembang diawali oleh kawasan Candi Baru. Saat itu, permukimannya sangat dipengaruhi oleh arsitektur Eropa. Pada tahun 1920-an mulai muncul perumahan di area Bukit Gombel.

Letak permukiman di sana menyesuaikan kondisi alam yang ada dengan keadaan topografi yang berbukit. Selain itu, pemandangan yang menarik dan indah menghadap ke arah laut di sebelah utara sekaligus pemandangan landscape kota Semarang menjadi daya tarik pembangunan permukiman di Gombel.

Namun, dari situ timbul dampak negatif dikarenakan ekosistem yang terganggu akibat eksploitasi kawasan. Pada saat hujan daerah Semarang bawah sering banjir sebagai akibat dari air kiriman yang berasal dari Semarang atas, termasuk Gombel.

Selain itu, daerah Gombel juga sering terjadi longsor. Sebenarnya longsor di Gombel bukan hal yang baru. Dulu, pada tahun 1929 ruas Jalan Gombel Lama sempat terputus karena adanya longsor tanah di daerah Watugoreh, Gombel.

Sebagai tindak lanjut dari masalah terputusnya jalan tersebut, pada tahun 1934 pihak Belanda membuat jalan baru yaitu Jalan Setiabudi. Saat ini ruas tersebut dikenal dengan Jalan Gombel Baru dan memanjang sampai ke daerah Ada Setiabudi.

Sejak pembangunan jalan itu, kawasan Gombel Baru mulai ramai dengan permukiman penduduk. Dari situlah asal mulanya Gombel yang terbagi menjadi Gombel Lama dan Gombel Baru yang dipisahkan oleh hutan kecil.